Berlatih Taat Pada Arahan Tuhan
Kalangan Sendiri

Berlatih Taat Pada Arahan Tuhan

Lori Official Writer
      53

Ayat Renungan: Yohanes 14: 21 - "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." 

 

Kalau kita bisa menoleh ke tahun-tahun sebelumnya, mungkin ada diantara kita yang gagal di dalam mencapai atau memutuskan sesuatu hanya karena mengabaikan arahan Tuhan. Roh Kudus sudah berbicara di dalam hati kita, mengingatkan, bahkan menahan kita, tetapi kita tetap melangkah dengan alasan: “Aku bisa sendiri,” “Aku sudah biasa begini,” atau “Aku tahu yang terbaik.”  

Tanpa sadar, kita menjalani hidup dengan mengandalkan kekuatan, pikiran, dan kemampuan sendiri, sambil meminta Tuhan memberkati keputusan yang sudah kita buat. Kita bekerja, melayani, dan mengambil langkah besar tanpa sungguh-sungguh berhenti untuk bertanya: “Tuhan, apakah ini yang Engkau kehendaki?” Bahkan saat Tuhan berkata “Tunggu”, kita sering memilih untuk tetap berjalan. 

Di sinilah ketaatan diuji!

Tuhan tidak menempatkan kita di sebuah arena pertandingan dimana kita perlu saling beradu kekuatan diri. Tapi Dia mau supaya kita menjadi pribadi rendah hati yang mengakui keterbatasan dirinya dan mau bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Jadi, ketaatan bukan soal mampu atau tidak mampu, melainkan soal siapa yang kita percayai. Ketika Yesus berkata bahwa orang yang mengasihi Dia akan menuruti perintah-Nya, Ia sedang mengajar kita bahwa kasih sejati selalu disertai kerendahan hati untuk dipimpin. 

Tahun ini, Tuhan mengundang kita untuk berlatih taat. Caranya adalah dengan membiasakan beberapa hal ini di dalam setiap keseharian kita: 

  • berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan 
  • mendengar dengan sungguh-sungguh suara Roh Kudus 
  • berani menunda langkah saat Tuhan berkata “jangan dulu” serta 
  • taat melakukan hal sederhana yang Tuhan minta, meski tidak masuk akal menurut logika kita. 

Latihan ketaatan sering kali dimulai dari hal kecil seperti menahan diri, belajar berkata jujur, bersedia membatalkan rencana pribadi, atau melangkah ke arah yang tidak kita pilih sendiri. Di situlah ego kita dipatahkan dan kasih kita kepada Tuhan diuji. 

Roma 6: 17–18 mengingatkan bahwa ketaatan sejati lahir dari hati yang sudah diubahkan. Kita tidak lagi hidup sebagai orang yang dikuasai kehendak sendiri, tetapi sebagai pribadi yang dengan sadar memilih untuk tunduk pada kebenaran Allah. Ketaatan menjadi gaya hidup, bukan reaksi sesaat. 

Tuhan tidak mencari kesempurnaan, tetapi hati yang mau diajar. Ia rindu kita belajar berkata, “Tuhan, aku tidak mau lagi berjalan sendirian. Aku mau dipimpin, bahkan jika itu berarti aku harus menyangkal diriku sendiri.” Dari situlah ketaatan yang lahir dari kasih mulai bertumbuh. 

Apakah Anda bersedia mengambil komitmen untuk mau belajar membentuk diri Anda menjadi pribadi yang taat sepanjang tahun ini? Mari ambil waktu untuk berdoa sejenak, sampaikan kepada Tuhan dengan lembut doa ini: 

“Tuhan, aku mengakui bahwa sering kali aku lebih percaya pada kekuatanku sendiri daripada pimpinan-Mu. Tahun ini aku mau belajar taat—bukan karena takut, tetapi karena aku mengasihi-Mu. Ajarku peka mendengar suara Roh Kudus dan berani menaati apa pun yang Engkau minta. Bentuk aku melalui latihan ketaatan setiap hari. Amin.” 

Ikuti Kami